Ratusan orang sedang bersiap menyaksikan pertunjukan seorang ahli berjalan di atas tali yang diikat di antara dua gedung tinggi sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian sekitar 15 meter dari atas jalan raya. Selain tantangan harus menyeberangi tali dengan diameter hanya beberapa senti, si ahli ini harus juga mampu mengatasi tiupan angin yang cukup kencang, kengerian yang timbul dari berseliwerannya kabel listrik dan telpon di bawah tali yang dilewatinya, serta lalu lalang mobil di jalan raya. Dengan bantuan tongkat, si ahli berjalan perlahan bergerak maju. Sesekali dia harus berhenti sejenak, badan miring ke kiri ke kanan diimbangi dengan gerakan tongkat, atau bahkan harus berjongkok untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Semua orang seakan menahan napas dengan jantung berhenti berdetak melihat atraksi yang sangat mendebarkan ini. Waktu seakan berjalan sangat lambat. Perlahan tapi pasti, si ahli mendekati ujung tali, dan akhirnya mencapai gedung sebelah. Pecahlah teriakan dan tepuk tangan keras dan panjang dari para penonton, seakan mereka baru saja terlepas dari suatu beban berat. Atraksi tersebut diulang sampai tiga kali, dimana walaupun dengan perjuangan yang tidak mudah, si ahli dengan ketrampilan dan ketenangannya, kembali mampu melewati tali dengan selamat. Tidak ada seorangpun dari penonton yang meragukan kepiawaiannya. Mereka berseru-seru memuji dan memanggil-manggil nama si ahli. Si ahli kemudian berkata, ”Apakah kalian meragukan kemampuanku menyeberangi tali ?”. ” Tentu saja tidak ! Engkau telah membuktikannya tidak hanya sekali tetapi berkali-kali ! ” teriak para penonton. ” Jika kukatakan bahwa aku yakin mampu menyeberangkan diriku dan seorang yang lain bersama-sama di atas tali, apakah kalian mempercayainya ?”, sambung si ahli. ” Tentu saja kami percaya”, sahut para penonton. ” Baiklah kalau begitu, aku meminta salah seorang sukarelawan untuk bersama-sama denganku menyeberangi tali. Adakah yang mau bergabung denganku ? ”. Tidak ada seorangpun penonton yang mengajukan diri walaupun pertanyaan tersebut diulang berkali-kali. Akhirnya si ahli memberikan insentif dengan mengatakan, ” Aku akan memberikan lima juta rupiah kepada pemberani yang bersedia ikut denganku.” Tetap saja tidak ada yang mengajukan diri bahkan walaupun hadiah ditambah menjadi sepuluh juta rupiah. Akhirnya setelah penawaran diulang beberapa kali, seorang pemuda dengan tampang takut-takut maju ke depan dan menyatakan bersedia. Sebelum mulai melangkah, si ahli memberikan beberapa petunjuk kepada si pemuda dengan penekanan bahwa si pemuda harus sepenuhnya mengikuti semua yang sudah disampaikan tanpa membantah sedikitpun karena ketidakpatuhan berarti celaka dalam pertunjukan ini. Mulailah mereka berdua berjalan dengan cara si ahli berjalan di muka memegang tongkat keseimbangan, sedang si pemuda berjalan di belakangnya dengan kedua tangan memegang bahu si ahli. Sekali ini waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari sebelumnya. Setiap penonton seakan dapat mendengar detak jantung orang di sebelahnya. Akhirnya keduanya dapat sampai di seberang tali dengan selamat. Sekali ini sambutan dari para penonton membahana sampai lama sekali.
Cerita ini mengandung arti bahwa dalam kehidupan ini, ada orang-orang yang berhasil mencapai sukses dengan akumulasi upaya, keberhasilan dan kegagalan sebelumnya. Mereka mampu mengulang-ulang keberhasilan dan kesuksesan mereka seperti halnya si ahli yang mampu beberapa kali menyeberangi tali tersebut dengan selamat. Akan tetapi jangan dilupakan bahwa sebelumnya telah berkali-kali si ahli tersebut jatuh bangun dari tali terbentang dengan ketinggian rendah, tali ditinggikan sampai tali tinggi sekali. Tapi si ahli tetap terus berlatih sehingga mampu mengakumulasikan keterampilannya.
Dalam kehidupan, ada dua pilihan di depan kita apakah hanya sebagai penonton melihat orang lain saja yang sukses ataukah sebagai pelaku aktif dan melihat diri kita sendiri yang sukses. Kesuksesan dan keberhasilan yang kita raih, dapat ditempuh dalam beberapa cara apakah kita jatuh bangun dengan ’trial and error’ yaitu seandainya pemuda dalam cerita di atas mencoba sendiri untuk melewati tali tanpa panduan apapun dari si ahli; atau si pemuda mendapat petunjuk dari si ahli dan kemudian mencoba melewati sendiri tali tersebut; atau si pemuda setelah mendapat petunjuk dari si ahli kemudian didampingi sehingga sukses mencapai titik seberang. Tentu saja jika kita bisa mendapatkan mentor yang tepat, saling memberikan komitmen baik , maka berbagai kesuksesan dan keberhasilan akan makin mudah kita raih dalam kehidupan ini. Jangan lupa setelah kita mencapai level kemampuan dan kualitas, jangan lupa untuk mengajak orang lainnya yang punya komitmen yang cukup, untuk sukses dan berhasil pula.
Dan hal yang terpenting disemuanya itu adalah Menyerahkan seluruhnya pada Tuhan..
Minggu, 17 Juli 2011
Belajar Bersyukur
Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin. Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya. "Bagaimana perjalanan kali ini?" "Wah, sangat luar biasa Ayah" "Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin" kata ayahnya. "Oh iya" kata anaknya "Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?" tanya ayahnya. Kemudian si anak menjawab. "Saya saksikan bahwa : Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya. Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari. Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh. Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita. Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri. Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi." Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara. Kemudian sang anak menambahkan "Terimakasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita." Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih.
Jumat, 15 Juli 2011
Aku Pengangguran
Karena krisis ekonomi yang melanda Kanada, perusahaan di mana aku bekerja mengalami kebangkrutan. Ini pengalaman pertamaku menjadi seorang pengangguran. Selama setengah tahun aku mencari pekerjaan ke sana kemari; telepon sana, telepon sini, surat sana, surat sini, tapi hasilnya nihil! Banyak perusahaan yang kudatangi, di depan gedung sudah tertulis dengan huruf besar,"TIDAK ADA LOWONGAN". Waktu beberapa minggu sudah berlalu lagi, tapi tidak ada pekerjaan yang tersedia bagiku, masakan seluruh kota Toronto, tidak memunyai lowongan pekerjaan bagiku yang berbakat ini? Di perusahaanku dulu, aku terkenal seorang yang berbakat, memiliki prestasi kerja yang sangat baik. Tapi sekarang... hatiku mulai gundah, mulai timbul sungutan.
Tiba-tiba, telepon di rumah mendering, aku dengan penuh harap mengangkat telepon. Wah, aku kecewa sekali, karena yang menelepon bukan salah satu perusahaan yang memerlukan tenaga, melainkan dari orang yang mau memperkenalkan produknya. "Oh. Tuhan! Mengapa begini " Beberapa minggu berlalu lagi, pada suatu hari, telepon mendering lagi. Kali ini benar-benar datang dari pihak kantor yang meminta aku datang untuk diwawancarai sehubungan dengan surat lamaran kerja. Kantor yang kudatangi, sangat besar dan megah. Para pegawainya berpakaian rapi dan sopan. Dalam hatiku berkata, "Inilah kantor yang cocok untuk aku." Dengan lancar aku menjawab setiap pertanyaan. Menurutku penampilanku pada waktu diwawancarai oleh pimpinan kantor sangat baik dan mantap. Dalam hati aku yakin bahwa mereka pasti menerimaku sebagai pegawainya.
Tapi setelah menunggu satu, dua hari dan seterusnya, tidak ada panggilan sama sekali dari pihak kantor. Hatiku menjadi kecewa sangat. Setelah itu, masih ada beberapa telepon yang meminta aku datang untuk diwawancarai, tapi pada akhirnya nihil semuanya. Hati mulai diliputi dengan sungutan dan mempersalahan Tuhan. Aku coba mengadakan evaluasi untuk mencari sebab, mengapa aku tidak diterima? Setelah berpikir sana, berfikir sini; evaluasi sana, evaluasi sini dan seterusnya; akhirnya aku tidak mengerti. Menurutku tiada suatupun yang salah. Hubunganku dengan Tuhan, berjalan seperti biasa. Doa, meditasi, membaca Alkitab, kebaktian dan sebagainya, berjalan normal. Tapi mengapa, Tuhan tidak menolong aku untuk mendapatkan pekerjaan?
Makin dipikir, makin risau hatiku. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk tidak memikirkan lagi, tidak mengadakan evaluasi lagi, melainkan dengan tenang, menyerahkan seanteronya ke dalam tangan Tuhan. Beberapa bulan belakangan ini, keluargaku di Hong Kong terus menelepon untuk menanyakan keadaanku dan pekerjaan yang sedangku cari. Aku tidak tahu, bagaimana menjawab mereka. Keluargaku itu, belum percaya Tuhan. Aku takut mereka mengejek dan mentertawakan, "Bukankah kamu bilang Tuhanmu itu baik dan bisa memelihara, menjagamu; tapi untuk cari pekerjaan saja, Tuhanmu tidak bisa menolong." "Oh,Tuhan! tolong tolonglah beri aku pekerjaan. Aku tidak mau keluargaku mengejek dan mempermalukan nama-Mu. Dan bagaimana aku dapat bersaksi dihadapan mereka lagi dengan mengatakan bahwa Engkau adalah Tuhan yang mahakuasa? Tuhan, Engkau mengetahui, hatiku sekarang sangat risau dan kuatir. Dan sekarang aku menyerah total padamu. Aku tidak mau lagi mengandalkan kekuatan dan kepintaranku. Aku menyesal dan mohon ampun untuk percaya diri yang kuat tapi menjurus pada kesombongan itu." Memang benar peribahasa yang mengatakan bahwa jalan buntu manusia adalah permulaan Allah bekerja.
Tidak sampai satu minggu, aku mendapat telepon dan meminta aku menghadap. Dengan bersandar pada Tuhan, penuh dengan kerendahan hati, aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Setelah selesai wawancara, aku pulang. Selama menunggu, aku terus menaruhnya dalam doa. Puji Tuhan, selang dua hari, aku mendapat kabar bahwa aku diterima. Dengan hati penuh sukacita aku langsung memberitahu pada keluarga di Hong Kong, bahwa aku sudah mendapat pekerjaan. Dan dengan jelas aku memberitahu pada mereka, bagaimana dengan pertolongan Tuhan, aku mendapatkan pekerjaan ini. Pengalaman kali ini, lebih menguatkan imanku. Aku lebih mengenal Tuhan yang selama ini kuyakinkan dan yakin pula bahwa Dia akan selalu memelihara sepanjang kehidupanku.
Tiba-tiba, telepon di rumah mendering, aku dengan penuh harap mengangkat telepon. Wah, aku kecewa sekali, karena yang menelepon bukan salah satu perusahaan yang memerlukan tenaga, melainkan dari orang yang mau memperkenalkan produknya. "Oh. Tuhan! Mengapa begini " Beberapa minggu berlalu lagi, pada suatu hari, telepon mendering lagi. Kali ini benar-benar datang dari pihak kantor yang meminta aku datang untuk diwawancarai sehubungan dengan surat lamaran kerja. Kantor yang kudatangi, sangat besar dan megah. Para pegawainya berpakaian rapi dan sopan. Dalam hatiku berkata, "Inilah kantor yang cocok untuk aku." Dengan lancar aku menjawab setiap pertanyaan. Menurutku penampilanku pada waktu diwawancarai oleh pimpinan kantor sangat baik dan mantap. Dalam hati aku yakin bahwa mereka pasti menerimaku sebagai pegawainya.
Tapi setelah menunggu satu, dua hari dan seterusnya, tidak ada panggilan sama sekali dari pihak kantor. Hatiku menjadi kecewa sangat. Setelah itu, masih ada beberapa telepon yang meminta aku datang untuk diwawancarai, tapi pada akhirnya nihil semuanya. Hati mulai diliputi dengan sungutan dan mempersalahan Tuhan. Aku coba mengadakan evaluasi untuk mencari sebab, mengapa aku tidak diterima? Setelah berpikir sana, berfikir sini; evaluasi sana, evaluasi sini dan seterusnya; akhirnya aku tidak mengerti. Menurutku tiada suatupun yang salah. Hubunganku dengan Tuhan, berjalan seperti biasa. Doa, meditasi, membaca Alkitab, kebaktian dan sebagainya, berjalan normal. Tapi mengapa, Tuhan tidak menolong aku untuk mendapatkan pekerjaan?
Makin dipikir, makin risau hatiku. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk tidak memikirkan lagi, tidak mengadakan evaluasi lagi, melainkan dengan tenang, menyerahkan seanteronya ke dalam tangan Tuhan. Beberapa bulan belakangan ini, keluargaku di Hong Kong terus menelepon untuk menanyakan keadaanku dan pekerjaan yang sedangku cari. Aku tidak tahu, bagaimana menjawab mereka. Keluargaku itu, belum percaya Tuhan. Aku takut mereka mengejek dan mentertawakan, "Bukankah kamu bilang Tuhanmu itu baik dan bisa memelihara, menjagamu; tapi untuk cari pekerjaan saja, Tuhanmu tidak bisa menolong." "Oh,Tuhan! tolong tolonglah beri aku pekerjaan. Aku tidak mau keluargaku mengejek dan mempermalukan nama-Mu. Dan bagaimana aku dapat bersaksi dihadapan mereka lagi dengan mengatakan bahwa Engkau adalah Tuhan yang mahakuasa? Tuhan, Engkau mengetahui, hatiku sekarang sangat risau dan kuatir. Dan sekarang aku menyerah total padamu. Aku tidak mau lagi mengandalkan kekuatan dan kepintaranku. Aku menyesal dan mohon ampun untuk percaya diri yang kuat tapi menjurus pada kesombongan itu." Memang benar peribahasa yang mengatakan bahwa jalan buntu manusia adalah permulaan Allah bekerja.
Tidak sampai satu minggu, aku mendapat telepon dan meminta aku menghadap. Dengan bersandar pada Tuhan, penuh dengan kerendahan hati, aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Setelah selesai wawancara, aku pulang. Selama menunggu, aku terus menaruhnya dalam doa. Puji Tuhan, selang dua hari, aku mendapat kabar bahwa aku diterima. Dengan hati penuh sukacita aku langsung memberitahu pada keluarga di Hong Kong, bahwa aku sudah mendapat pekerjaan. Dan dengan jelas aku memberitahu pada mereka, bagaimana dengan pertolongan Tuhan, aku mendapatkan pekerjaan ini. Pengalaman kali ini, lebih menguatkan imanku. Aku lebih mengenal Tuhan yang selama ini kuyakinkan dan yakin pula bahwa Dia akan selalu memelihara sepanjang kehidupanku.
3 Pendekar
Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan perasaan sepi dan kehilangan.
Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20-an tahun yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong(kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.
Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya. Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang" (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.
Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain,membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam dikali atau menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.
Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu
pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.
Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.
Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.
Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas intelektual, materi atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting. Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan
Tuhan sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan indah pula.
Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20-an tahun yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong(kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.
Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya. Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang" (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.
Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain,membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam dikali atau menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.
Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu
pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.
Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.
Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.
Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas intelektual, materi atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting. Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan
Tuhan sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan indah pula.
Langganan:
Postingan (Atom)